Ujangketul62’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MATERI AKREDITASI RUMAHSAKIT November 16, 2011

Filed under: Uncategorized — ujangketul62 @ 4:42 pm
Tags:

Buku – Buku Pedoman Akreditasi Rumah Sakit
Berikut beberapa buku-buku serta peraturan-peraturan yang dapat membantu dalam penyusunan akreditasi sebuah rumah sakit. Mohon difasilitasi pengadaannya.
No. PELAYANAN PEDOMAN PERATURAN
1. Administrasi dan Manajemen Pedoman Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit, Depkes, 1994
Prosedur dan Teknik Penyusunan Master Budget Rumah Sakit (1996)
Petunjuk Tehnis Tata Cara Pengelolaan Keuangan RS Instansi Pengguna PNBP, Depkes, 1998
Pedoman Akuntansi RS, Depkes, 2003
Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (2001)
Pedoman Operasional dan Pemeliharaan Peralatan Kesehatan, Depkes, 2001
Program (dr. Luwiharsih)
Pedoman penyusunan SOP untuk RS (dr. Nico A. Lumenta)
Indikator Kinerja Rumah Sakit, Depkes, 2005
Pedoman Etika Promosi Rumah Sakit, Persi, 2006
Standar Kamar Jenazah,Depkes,2004
Pokok-pokok Pedoman Arsitektur Medik Rumah Sakit Umum,Depkes,1998 Himpunan Peraturan yang berkaitan dengan akreditasi, Persi – KARS,1998
UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran
UU NO 44/2009 tentang RSD
Kepmenkes 772/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal RS (Hospital Bylaws)
Permenkes 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan
Kepmenkes 1426/Menkes/SK/XII/2006 tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)
SE Dirjen Yanmed YM.02.04.3.5.2504 tahun 1997 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien,Dokter dan Rumah Sakit.
indikator klinik
indikator spm

2. Pelayanan Medik Kode Etik Kedokteran Indonesia
Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety),Depkes 2006
Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP),KKP-RS,2007
Standar Pelayanan Rumah Sakit,Depkes,1999
Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit,WHO-Depkes,2001
Indikator Kinerja Rumah Sakit,Depkes,2005
Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik Di Indonesia,KKI,2006
Manual Komunikasi Efektif Dokter-Pasien,KKI,2006
Pedoman Ponek
materi doddy firmanda
materi nico lomenta
indikator klinik Permenkes 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik
Keputusan Dirjen Yanmed HK.00.06.3.5.1866 tentang Pedoman Persetujuan Tindakan Medik (Informed Concent),1999
Keputusan Dirjen Bina Yanmed HK.00.06.1.4.5390 tentang Pedoman Advokasi dan Bantuan Hukum Dalam Penanganan Kasus Pelayanan Medis di Rumah Sakit,2005
Kepmenkes 496/Menkes/SK/X/2004 tentang Pedoman Audit Medis di RS
Kepmenkes 631/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis di Rumah Sakit
SE Dirjen Yanmed YM.02.04.3.5.2504 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien,Dokter dan Rumah Sakit
3. Pelayanan Gawat Darurat Pedoman Pelayanan Gawat Darurat, Depkes, 1995
Pedoman Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan Rumah Sakit Pada Penanggulangan Musibah Masal/ Bencana, Depkes,1998
Penatalaksanaan Korban Bencana Massal, Depkes, 2002
Pedoman Kerja Perawat Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit,Depkes,1999
Pedoman Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat Di RS,Depkes,2005
Materi Teknis Medis Khusus,Depkes,2005
Materi Teknis Medis Standar (ABCDE),Depkes,2005
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, Depkes 2006
Pedoman Penatalaksanaan Identifikasi Korban Mati Pada Bencana Massal,Depkes-Polri,2004
Pedoman Penatalaksanaan Keracunan Untuk RS, Depkes-WHO,2001 Kepmenkes 1279/Menkes/SK/XI/2001 tentang Penilaian Risiko Bencana di Provinsi dan Kabupaten/Kota
4. Pelayanan Keperawatan Standar Asuhan Keperawatan,Depkes,1997
Pedoman Uraian Tugas Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit,Depkes,1999
Instrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit,Depkes,2001
Standar Manajemen Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan,Depkes,2001
Standar Peralatan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan,Depkes,2001
Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, Depkes,2002
Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, Depkes,2005
Dasar-dasar Asuhan Kebidanan,Depkes,2005
Pedoman Perancangan Ruang Rawat Inap Rumah Sakit, Depkes,2005
Pedoman Penanggulangan KLB – DBD Bagi Keperawatan di RS Dan Puskesmas,Depkes,2006
5. Pelayanan Rekam Medik Pedoman Pengelolaan Rekam Medis di Rumah Sakit,Depkes,1997
Buku Petunjuk Pengisian,Pengolahan dan Penyajian Data RS, Depkes, 2005
Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan, PORMIKI, 2008 Permenkes 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis
Kep Dirjen Yanmed 78/1991 tentang Penyelenggaraan Rekam Medis di RS
SE Dirjen Yanmed HK.00.06.1.5.01160 tentang Petunjuk Teknis Pengadaan Formulir Rekam Medis Dasar dan Pemusnahan Arsip Rekam Medis di Rumah Sakit,1995
6. Pelayanan Farmasi Pedoman Pengelolaan Instalasi Farmasi Rumah Sakit,Depkes,1990
Pedoman Kerja untuk Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit,Depkes,1998
Pedoman Pelayanan Farmasi Rumah Sakit, ISFI, 2001 Kepmenkes 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis Pada Sarana Pelayanan Kesehatan
Kepmenkes 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit
7. Keselamatan Kerja,Kebakaran,dan Kewaspadaan Bencana Pedoman Teknis Upaya Kesehatan Kerja di Rumah Sakit,Depkes,1996
Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia,Depkes,2000
Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan,Depkes,2003
Pedoman penatalaksanaan pengelolaan limbah padat dan limbah cair di rumah sakit,Depkes,2006 UU No. 1 Th 1970 tentang Keselamatan Kerja
Kepmenkes 875/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Kepmenkes 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
Kepmenkes 1217/Menkes?SK/XI/2001 tentang Pedoman Pengamanan Dampak Radiasi
Kepmenkes 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum
Kepmenkes 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional Pengambilan dan Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruangan Rumah Sakit
Kepmenkes 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis Pada Sarana Pelayanan Kesehatan
Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
Kepmenkes 432/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit
8. Pelayanan Radiologi Pelayanan Radiologi Rumah Sakit Umum Klas B Pendidikan,Depkes,1999
9. Pelayanan Laboratorium Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan Biomedis,Depkes,1997
Pedoman Pengelolaan Laboratorium Klinik Rumah Sakit,Depkes,1998
Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar, Depkes,2004 Kepmenkes 943/Menkes/SK/VIII/2002 tentang Pedoman Akreditasi Laboratorium Kesehatan
10. Pelayanan Kamar Operasi Standar Umum Pelayanan Anestesiologi dan Reanimasi di Rumah Sakit,Depkes,1999
Pedoman Kerja Perawat Kamar Operasi, Depkes, 2003
Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi Rumah Sakit Kelas B, Depkes, 2004
Standard,Pedoman dan Pernyataan,Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia (IDSAI) Jaya,2003
11. Pelayanan Pengendalian Infeksi Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial Rumah Sakit,Depkes,1993
Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial Di Rumah Sakit,Depkes,2001
Pedoman Pelayanan Pusat Sterilisasi (CSSD) di Rumah Sakit,Depkes,2002
Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas, 2004
Pedoman Manajemen Linen di Rumah Sakit, Depkes, 2004
Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan,Depkes,2003
Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RS dan Fasilitas Kesehatan Lainnya,Depkes,2007
Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RS dan Fasilitas Kesehatan Lainnya,Depkes – Perdalin – JHPIEGO,2007
12. Pelayanan Perinatal Risiko Tinggi Pedoman Pelayanan Rawat Gabung di Rumah Sakit,Depkes,1991
Pedoman Pelayanan Perinatal Pada Rumah Sakit Umum Kelas C dan D,Depkes,1991
Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk Dokter,Bidan,dan Perawat di Rumah Sakit,IDAI – Depkes,2004
Pedoman Pelayanan Maternal Perinatal Pada Rumah Sakit Umum Kelas B (non pendidikan),C dan D,Depkes,2006
13. Pelayanan Rehabilitasi Medik Pedoman Pelayanan Rehabilitasi Medik di RS Kelas A,B,dan C,Depkes,1997
Standar Operasional Prosedur Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit,Depkes,2002
Indikator Klinik Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit,Depkes,2002
14. Pelayanan Gizi Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit, Depkes 2003
15. Pelayanan Intensif Standar Umum Pelayanan Anestesiologi dan Reanimasi di Rumah Sakit, Depkes, 1999
Standar Pelayanan ICU, Depkes, 2003
Standar Pelayanan ICCU di Rumah Sakit, Depkes, 2003
Pedoman Pencegahan dan Penananggulangan Infeksi di ICU, Depkes, 2004
Standar Pelayanan Keperawatan Di ICU, Depkes, 2006
16. Pelayanan Darah Standar Penggunaan Darah, Depkes, 1996
Buku Pedoman Pelayanan Transfusi Darah, Modul 1 – 4, Depkes, 2003
Transfusi Komponen Darah,HTA,Depkes,2003

PEDOMAN
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JAMINAN MUTU (QA)
DI RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS
I. PENDAHULUAN
• Latar Belakang
• Tujuan.
II. PROGRAM JAMINAN MUTU
1. Prinsip-Prinsip Program Jaminan Mutu di Rumah Sakit
2. Pentahapan Program Jaminan Mutu di Rumah Sakit.
III. PENTAHAPAN PELATIHAN JAMINAN MUTU DI RUMAH SAKIT.
1. Inisiasi
2. Transformasi
3. Integrasi.
IV. PENUTUP
Bab I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan dibidang pelayanan langsung seperti Rumah sakit,bertujuan untuk me-ningkatkan mutu,cakupan dan efisiensi pelaksanaan rujukan medik dan rujukan kesehatan secara terpadu serta meningkatkan dan memantapkan manajemen pelayanan kesehatan yang meliputi kegiatan peren-canaan,pelaksanaan,pengawasan,pengendalian dan penilaian.
Sejalan dengan perubahan sosial budaya masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan informasi yang demikian cepat dan diikuti oleh tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik meng-haruskan sarana pelayanan kesehatan untuk mengembangkan diri secara terus menerus seiring dengan perkembangan yang ada pada masyarakat tersebut. Pengembangan yang dilaksanakan tahap demi tahap berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit tetap dapat mengikuti perubahan yang ada.
Apabila rumah sakit tidak mempersiapkan diri secara lebih baik dalam upaya peningkatan mutu pelayanan,maka sarana tersebut akan dijauhi masyarakat dan masyarakat akan mencari sarana kesehatan alternatif. Untuk itu setiap rumah sakit harus meningkatkan penampilannya secara terencana sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat agar dapat terus berkembang.
Salah satu usaha peningkatan penampilan dari masing masing sarana pelayanan seperti rumah sakit adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan di semua unit pelayanan,baik pada unit pelayanan medik,pelayanan penunjang medik,ataupun pada unit pelayanan administrasi dan manajemen melalui program jaminan mutu.
Kegiatan peningkatan mutu tersebut diatas dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan atau kegiatan mutu diantaranya dengan mengembangkan Gugus Kendali Mutu,Pengendalian Mutu Terpadu,Penyusunan/Penerapan standar pelayanan atau penyediaan pelayanan prima di rumah sakit.
Seperti diketahui Mutu Pelayanan Rumah Sakit merupakan derajat kesempurnaan pelayanan Rumah Sakit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat/konsu-men akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan profesi dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit secara wajar,efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai norma,etika,hukum dan sosio budaya,dengan memper-hatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat sebagai konsumen.
Didalam mencapai mutu tersebut diatas,maka upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit disusun berupa kegiatan yang komprehensif dan integratif yang menyangkut Struktur,Proses dan Out Put/Out Come secara objektif,sistematik dan berlanjut,memantau dan menilai mutu serta kewajaran pelayanan tehadap pasien,menggunakan peluang untuk meningkatkan pelayanan pasien dan memecah-kan masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit berdaya guna dan berhasil guna. Upaya peningkatan mutu di rumah sakit bertujuan untuk memberikan asuhan atau pelayanan sebaik baiknya kepada pasien.
Adapun strategi upaya peningkatan mutu rumah sakit adalah sebagai berikut:
a. Rumah Sakit harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan rumah sakit sehingga dapat menyusun langkah langkah upaya peningkatan mutu masing masing rumah sakit.
b. Memberi prioritas pada peningkatan sumberdaya manusia di rumah sakit termasuk kesejahteraan karyawan,memberikan imbalan yang layak,program keselamatan dan kesehatan kerja,program pendidikan dan pelatihan ,dll.
c. Menciptakan budaya mutu di rumah sakit,termasuk didalamnya menyusun program mutu rumah sakit,menyusun tema yang akan dipakai sebagai pedoman,memilih pendekatan yang akan dipakai dalam penggunaan standar prosedur serta menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dibeberapa rumah sakit,menunjukkan bahwa sebagian besar Rumah Sakit terutama yang berada diluar pulau Jawa belum atau sedikit sekali tersentuh oleh pelatihan yang berwawasan mutu. Walaupun sebagian rumah sakit sudah tersentuh,tetapi hanya dalam penyebarluasan informasi tentang mutu saja,belum sampai pada tingkat konsep ataupun aplikasinya.
Pelatihan peningkatan mutu yang sekarang ini dilaku-kan di rumah sakit diantaranya:
• Pelatihan Total Quality Manajemen.
• Pelatihan Fasilitator Gugus Kendali Mutu.
• Pelatihan Manajemen Strateji RS
• Pelatihan Teknik Dokumentasi Standar Pelayanan Mutu RS
• Pelatihan Standar Asuhan Keperawatan.
• Pelatihan Akreditasi Rumah Sakit.
• Pelatihan Sumber Daya Manusia.
• Pelatihan Manajemen Pimpinan RSUD
• Dll
Untuk memperoleh keseragaman dalam penyeleng-garan pendidikan dan pelatihan mutu tersebut diatas,maka perlu disusun suatu pedoman yang merupakan petunjuk umum dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mutu tersebut.
B. TUJUAN
Tujuan Umum: Tujuan dari pada kegiatan ini adalah tersusunnya pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jaminan mutu di Rumah Sakit.
Tujuan Khusus: Tersusunnya jenis pelatihan pada setiap fase dari langkah langkah penerapan jaminan mutu rumah sakit yaitu fase Inisiasi,Transformasi dan Integrasi.
Bab II
PROGRAM JAMINAN MUTU
A. PRINSIP-PRINSIP JAMINAN MUTU
Mutu tidak akan pernah dicapai dalam jangka waktu yang singkat. Hal tersebut memerlukan waktu yang sangat bervariasi tergantung dari pada standar mutu yang dinginkan. Pengertian tentang program jaminan mutu mungkin sudah sering kita ketahui dari berbagai sumber yang sangat bervariasi.
Secara singkat disebutkan bahwa program jaminan mutu melibatkan setiap orang yang berada dalam organisasi untuk peningkatan pelayanan yang terus menerus dimana mereka akan memenuhi kebutuhan standar dan harapan dari pada pelanggan,baik pelanggan intern ataupun ekstern. Hal ini adalah suatu metode yang mengkombinasikan teknik manajemen,keterampilan teknik,dan pemanfaatan penuh potensi sumber daya manusia dalam organisasi rumah sakit.
Program Jaminan Mutu dapat dibedakan dengan bentuk manajemen yang lain,dimana jaminan mutu didasarkan pada prinsip prinsip sebagai berikut:
• Setiap orang didalam organisasi harus dilibatkan dalam penentuan,pengertian dan peningkatan proses yang berkelanjutan dengan masing masing kontrol dan bertanggung jawab dalam setiap mutu yang dihasilkan oleh masing masing orang.
• Setiap orang harus sepakat untuk memuaskan masing masing pelanggan baik pelanggan eksternal maupun pelanggan internal.
• Peningkatan mutu dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah yaitu dengan menggunakan data untuk pengambilan keputusan,penggunaan alat alat statistik dan keterlibatan setiap orang yang terkait.
• Adanya pengertian dan penerimaan terhadap suatu perbedaan yang alami.
• Pembentukan teamwork . Baik itu dalam part time teamwork,fulltime teamwork ataupun cross functional team .
• Adanya komitmen tentang pengembangan karyawan (development of employees ) melalui keterlibatan didalam pengambilan keputusan.
• Partisipasi setiap orang dalam merupakan dorongan yang positif dan harus dilaksanakan.
• Program pendidikan dan pelatihan dianggap sebagai suatu investment/modal dalam rangka pengembangan kemampuan dan pengetahuan pegawai untuk mencapai potensi yang mereka harapkan.
• Supliers dan Customer diintegrasikan dalam proses peningkatan mutu.
1. ORIENTASI PADA PELANGGAN
Dalam pandangan tradisional,pelanggan berarti orang yang membeli dan menggunakan produk suatu perusahaan/organisasi. Dalam hal ini pelanggan tersebut berinteraksi dengan perusahaan setelah proses menghasilkan produk. Sedangkan pihak pihak yang berhubungan dengan organisasi/perusahaan sebelum tahap proses disebut sebagai pemasok.
Dalam konsep quality manajemen,pelanggan dan pemasok ada didalam dan diluar organisasi. Pelanggan dikenal sebagai pelanggan eksternal dan pelanggan internal. Pelanggan eksternal adalah orang yang menggunakan produk atau jasa perusahaan . Pemasok eksternal adalah orang diluar organisasi yang menjual bahan mentah/bahan baku,informasi atau jasa lain kepada organisasi. Sedangkan didalam organisasi juga ada pelanggan internal dan pemasok internal. Misalnya dalam pelayanan pasien dirumah sakit. Dalam pemeriksaan laboratorium misalnya,dokter dan tenaga paramedis merupakan pelanggan internal dari pada petugas laboratorium,sedangkan bagian logistik yang menyediakan bahan bahan pemeriksaan dan peralatan lainnya merupakan pemasok internal. Oleh karena itu kualitas pekerjaan dari bagian logistik akan mempengaruhi kualitas pekerjaan petugas laboratorium sekaligus akan mempengaruhi kualitas pekerjaan dari pada tenaga medis.
Pada hakikatnya tujuan dari pada bisnis adalah untuk menciptakan dan mempertahankan para pelanggan. Demikian pula dalam kegiatan pelayanan kesehatan,target utamanya adalah untuk kepuasan pelanggan dalam hal ini kesembuhan dari penyakit. Oleh karena itu hanya dengan memahami proses dan pelanggan maka organisasi dapat memahami dan menghargai makna dari pada kualitas. Semua usaha manajemen dalam jaminan mutu diarahkan pada satu tujuan utama yaitu terciptanya kepuasan pelanggan. Apapun yang dilakukan manajemen tidak akan ada gunanya bila akhirnya tidak menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Adanya kepuasan pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya:
• Hubungan antara Rumah Sakit dengan para pasien menjadi harmonis.
• Memberikan dasar yang baik bagi kunjungan ulang.
• Membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut ( word of mouth ) yang menguntungkan bagi rumah sakit.
• Reputasi rumah sakit menjadi baik dimata pelanggan / pasien dan keluarga.
• Penghasilan rumah sakit meningkat.
2. CONTINOUS IMPROVEMENT
Persaingan global dan perubahan yang terjadi pada setiap pelanggan merupakan alasan perlunya dilakukan perbaikan yang berkesinambungan. Untuk mencapai perbaikan yang berkesinambungan,para manajer rumah sakit tidak cukup hanya menerima ide perbaikan,akan tetapi juga secara aktif mendorong setiap orang untuk mengidentifikasi dan menggunakan kesempatan perbaikan. Pelaksanaan proses berke-sinambungan ini meliputi penentuan dan pemecahan masalah yang memungkinkan,pemilihan dan imple-mentasi pemecahan yang paling efektif dn efisien,serta evaluasi ulang,standarisasi dan pengulangan proses.
Proses pembelajaran merupakan elemen yang penting dalam perbaikan. Pembelajaran memberikan dasar rasional untuk bertindak dan merupakan elemen penting kedua dalam perbaikan. Tingkat dan luasnya perbaikan dapat ditingkatkan dengan membuat perbaikan proses dan sistem sebagai bagian dari strategi organisasi,serta menciptakan suatu sistem untuk perbaikan. Sistem tersebut haruslah mendukung pengembangan keterampilan dan pengetahuan anggota organisasi untuk melaksanakan perbaikan. Hal hal yang harus diperhatikan dalam merancang sistem perbaikan antara lain: Pendidikan,Keteladanan manajer,Tanggung jawab yang jelas,Perbaikan diidentifikasi sebagai strategi yang penting,Identifikasi dan prioritas tindakan perbaikan,metode sistematis untuk perbaikan,dan lain lain.
Perbaikan terhadap mutu yang berkesinambungan memerlukan beberapa persyaratan yang harus diperhatikan diantaranya adalah:
a. Perbaikan tersebut haruslah berdasarkan pada visi dan misi rumah sakit.
Didalam implementasi jaminan mutu di rumah sakit,visi dan misi harus ditentukan dan merupakan dasar serta sentra yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan seluruh kegiatan. Visi dan Misi rumah sakit harus diinformasikan kepada semua karyawan mulai dari tingkat Manajer puncak sampai dengan pelaksana ditingkat front line. Dengan harapan apabila setiap orang yang terlibat di rumah sakit sudah mengetahui visi dan misi rumah sakit maka mereka akan bekerja dengan suatu arah yang dan terencana dengan baik.
b. Mengikuti Tahap Strategi Perbaikan.
Didalam menerapkan perbaikan,dikenal berbagai proses. Tidak ada satupun cara yang paling tepat untuk memperbaiki proses perbaikan,baik itu dalam bidang manufaktur ataupun dalam bidang jasa. Meskipun demikian ada beberapa strategi standar yang biasanya digunakan. Strategi tersebut antara lain:
• Menggambarkan proses yang ada
• Membakukan proses
• Menghilangkan kesalahan pada proses
• Merampingkan proses
• Mengurangi sumber sumber terjadinya variasi
• Menerapkan pengendalian proses statistikal
• Memperbaiki rancangan
3. SCIENTIFIC APPROACH
Pendekatan ilmiah merupakan langkah sistematis bagi setiap individu maupun Tim dalam proses pemecahan masalah dan perbaikan proses. Hal ini berarti bahwa dalam pengambilan keputusan harus selalu berdasarkan pada data,dan bukan merupakan perkiraan saja. Disamping itu harus pula melihat pada akar permasalahan dan bukan hanya berdasarkan gejala gejala yang terlihat pada permukaan. Demikian juga dengan pemilihan alternatif pemecahan masalah yang dipilih haruslah betul merupakan alternatif solusi yang baik, jangan merupakan solusi yang setiap saat harus diperbaiki.
Fokus pada pendekatan ilmiah adalah pengumpulan ,pengolahan dan pemanfaatan data. Dalam proses pengumpulan dan pemanfaatan data tersebut tidak dianjurkan untuk menggunakan ilmu statistik yang rumit. Dengan hanya menggunakan alat alat statistik yang sederhana seperti Grafik,Bar Chart,Peren-canaan waktu (Time Plot) dapat membantu para manajer atau petugas kesehatan untuk menghasilkan suatu peningkatan mutu secara terus menerus dan dengan demikian selanjutnya akan mengatasi seluruh permasalahan yang ada.
Banyak diantara kita telah bekerja selama bertahun tahun tanpa menggunakan data. Kita datang dengan berbagai ide untuk meningkatkan kinerja organisasi,akan tetapi kita hanya berangkat hanya berdasarkan pengalaman yang diterapkan dalam pekerjaan sehari hari atau hanya berdasarkan pembicaraan informal dengan para pasien atau pelanggan lainnya. Akibatnya adalah apabila terjadi masalah dikemudian hari,kita akan menggunakan pengalaman tersebut untuk mencari pemecahan masalahnya,maka kemungkinannya adalah bahwa masalah tersebut mungkin teratasi atau sama sekali tidak teratasi.
Tidak ada yang menyalahkan pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan pengalaman,pengeta-huan,perkiraan ataupun dengan intuisi seperti diatas. Kalau demikian halnya mengapa ditekankan tentang pemanfaatan data? Alasannya adalah sangat sederhana sekali yaitu bahwa pemanfaatan data adalah alat yang sangat tangguh yang dapat diikutkan atau diperhitungkan dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pemanfaatan data tidak dapat menggantikan pengalaman ataupun pengetahuan dalam peningkatan proses ataupun dalam pengambilan keputusan,akan tetapi pengalaman dan pengetahuan tidaklah cukup untuk menghasilkan suatu keputusan yang tepat.
Apabila kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang baru,biasanya kita membentuk suatu teori tentang apa yang telah terjadi berdasarkan pengalaman. Hal ini adalah suatu keadaaan yang normal. Akan tetapi kecenderungan yang sering terjadi adalah bahwa kita sering kali hanya melihat terhadap kesamaan dari pada kedua kejadian tersebut dan kita tidak melihat terhadap perbedaannya. Dengan meng-gunakan data,kita dapat menghindarkan perangkap-perangkap yang demikian. Penggunaan data dapat menolong kita untuk mengerti lebih dalam apa yang telah terjadi pada proses,service maupun produk.
Dengan menggunakan data akan membantu kita dalam memfokuskan permasalahan terhadap faktor-faktor yang betul-betul membuat suatu perbedaan atau variasi. Disamping itu pemanfaatan data dapat mem-bantu kita menghemat waktu,energi dan penggunaan sumber daya yang lebih efektif.
4. PEMBENTUKAN TEAM
Sekarang ini kita sudah memasuki lingkungan atau keadaan dimana goncangan-goncangan atau gangguan menjadi sesuatu hal yang biasa dan perubahan merupakan suatu yang tetap terjadi. Banyak faktor yang memaksa pengelola suatu rumah sakit mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan pasar/pelanggan dengan cara efektif dan efisien. Faktor-faktor ini diantaranya adalah termasuk kebutuhan untuk merespon perubahan teknologi yang begitu cepat dan luas,kecenderungan globalisasi disemua sektor dan tekanan-tekanan pengertian pasar termasuk keinginan dari pad pasien.
Untuk menghadapi kondisi tersebut dibutuhkan penge-tahuan,ketrampilan,pengalaman dan perspektif yang luas dan dilakukan secara bersama-sama dengan orang orang yang bekerja atau berkaitan dengan rumah sakit. Dengan demikian setiap rumah sakit diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi,membuat keputusan yang baik dan menyampaikan solusi tersebut terhadap para costumer (pelanggan).
Dengan perkataan lain dibutuhkan kerja sama dalam bentuk tim. Tim akan menciptakan suatu kondisi dimana para anggota akan tetap mempertahankan perubahan,mempelajari lebih banyak tentang kebutuhan dan memperoleh ketrampilan dalam kerja sama.
Dalam suatu organisasi,Team dibutuhkan apabila:
• Tugas-tugas yang diemban sangat kompleks.
• Kreatifitas dibutuhkan
• jalan yang harus ditempuh belum jelas
• Penggunaan sumber daya yang lebih efisien dibutuhkan
• Dibutuhkan belajar lebih cepat
• Mengerjakan komitmen yang tinggi
• Pelaksanaan dari rencana membutuhkan kerja sama dengan orang lain
• Tugas-tugas atau proses bersifat cross fungsional
Semakin banyak tugas-tugas yang berhubungan dengan hal diatas,maka organisasi akan membentuk tim untuk mengatasi tantangan tersebut.
Perusahaan/Organisasi akan lebih tergantung pada tim bila mereka menemukan bahwa metode pemecahan masalah yang tradisional,pengambilan keputusan,komunikasi dan kompetensi tidak cepat atau cukup flkesible untuk merespon terhadap perubahan yang ada. Tim-tim yang dibentuk akan digunakan untuk bentuk,seperti Manajemen Team On going work team,Improvment Team,Gugus Kendali Mutu,Forum Manajemen Menengah dll.
Rumah sakit menggunakan/memanfaatkan team untuk mencapai tujuan-tujuan dengan perbedaan yang luas, mengurangi penggunaan waktu yang tidak perlu,menambah siklus,mengurangi kesalahan pelayanan pada pasien dan melaksanakan pekerjaan sehari-hari,meningkatkan transaksi,merancang kembali sistem yang ada, lebih mengerti tentang kebutuhan pasien dan pelanggan lainnya.

Bab III
PENTAHAPAN PROGRAM JAMINAN MUTU
1. FASE INISIASI
1.1. Training Need Assessment (TNA)
Perbaikan mutu yang diberikan dengan terburu buru sering menyebabkan diambilnya keputusan yang salah tentang jenis pelatihan yang akan diberikan. Kesalahan kesalahan yang paling umum terjadi adalah sebagai berikut:
• Seorang petugas mengatakan kepada admi-nistrator rumah sakit bahwa ia mempunyai keterampilan baru. Mendapat informasi demikian,manajemen rumah sakit yang bersangkutan segera memberikan keterampilan tersebut kepada karyawannya tanpa mengetahui apakah karyawannya telah siap untuk mempelajarinya.
• Sebuah Rumah Sakit membeli peralatan baru untuk produk jasa pelayanan yang baru tanpa mempertimbangkan aspek pelatihan terlebih dahulu.
• Rumah Sakit melaksanakan pelatihan umum mengenai konsep kualitas secara luas tanpa menghiraukan bagaimana karyawannya akan menerapkan konsep tersebut dalam pekerjaannya sehari hari agar kualitasnya menjadi lebih baik.
• Suatu Rumah Sakit mengetahui bahwa pesaingnya sedang menerapkan teknik kualitas tertentu atau manajer rumah sakit membaca dari majalah atau surat kabar bahwa teknik tersebut sedang populer,sehingga dengan segera manajer tersebut memutuskan untuk melaksanakan pelatihan mengenai penerapan teknik kualitas tanpa memikirkan apakah hal tersebut cocok bagi rumah sakitnya.
Pelatihan yang baik dalm prosesnya dimulai dengan pengumpulan data dan informasi yang dapat menggambarkan jenis keterampilan yang dimiliki karyawan saat ini,dan keterampilan apa yang mereka perlukan untuk mencapai rencana jangka pendek dan jangka panjang yang telah ditetapkan,memuaskan pelanggan dan memperbaiki kualitas. Setelah data tersebut terkumpul,kemudian diolah dianalisis sehingga akhirnya kebutuhan akan pelatihan dapat ditentukan.
Pendekatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan adalah sebagai berikut
1. Menentukan keterampilan karyawan yang diperlukan untuk mencapai strategi kualitas yang ditentukan oleh Rumah Sakit. Ada beberapa metode yang dapat digunakan oleh para manajer untuk menentukan kebutuhan pelatihan,diantaranya adalah:
a. Observasi.
Manajer RS dapat melakukan observasi terhadap beberapa aspek pokok,misalnya apakah terdapat masalah masalah yang spesifik dalam masing masing bagian? Apakah karyawan menghadapi masalah dalam melaksanakan tugas tugas tertentu dan Apakah pekerjaan pekerjaan secara konsisten mendukung proses ?
b. Wawancara
Manajer dapat mewawancarai para karyawan agar mereka mengungkapkan kebutuhannya berdasarkan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki. Karyawan mengetahui tugas yang harus mereka kerjakan setiap hari. Mereka juga harus mengetahui tugas mana yang dapat mereka kerjakan dengan baik,mana yang tidak dan mana yang tidak dapat dikerjakan sama sekali. Brainstorming merupakan cara efektif dalam proses perbaikan yang berkesinambungan bila karyawan bersedia mengemukakan pikiran dan pendapatnya.
c. Survei Job – Task Analysis
Dalam tahap ini dilakukan analisis terhadap dua aspek utama. Pertama terhadap aspek pekerjaan secara keseluruhan dan kedua terhadap aspek pengetahuan,keterampilan serta sikap yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Berdasarkan informasi dari hasil analisis tersebut,maka instrumen survei dikembang-kan dan disebarkan kepada para karyawan yang akan diteliti. Dalam mengembangkan instrumen,ada baiknya melibatkan karyawan yang akan disurvei agar informasi yang diperoleh lengkap dan tidak mengabaikan kriteria kriteria seperti kerja sama tim,sensitivitas terhadap umpan balik pelanggan terutama pelanggan internal dan keterampilan interpersonal.
d. Focus Group Diskusi (FGD)
Dalam metode ini kelompok karyawan tertentu diminta untuk membicarakan siklus mutu yang berkaitan dengan pelatihan. Rapat yang dilakukan tanpa manajer atau penyelia tersebut akan menjadi lebih terbuka untuk menyadari bahwa mereka memerlukan pelatihan.
e. Sistem saran
Sistem saran organisasi ( baik melalui kotak saran,maupun saran yang diajukan secara langsung) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan.
2. Melakukan penilaian kebutuhan pelatihan secara periodik untuk mengidentifikasi topik topik yang baru.
3. Menggunakan proses identifikasi kebutuhan berkelanjutan yang meliputi evaluasi terhadap pelatihan yang telah diikuti karyawan dan saran dari unit bisnis maupun para manajer akan diperlukannya suatu pelatihan baru.
4. Melakukan Benchmarking (patok duga ) terhadap rumah sakit lain untuk menentukan apa yang mereka lakukan dan dimana mereka melakukan program pelatihan bagi para karyawannya.
1.2. SEMINAR TENTANG SADAR MUTU.
( Quality Awareness Workshop ).
Kegiatan ini sangat penting dilaksanakan sebelum kegiatan program jaminan mutu dilakukan pada suatu tempat. Adapun tujuan dari pada kegiatan ini adalah untuk membangun suatu komitmen yang tinggi dari pada petugas kesehatan terutama petugas rumah sakit beserta instansi terkait dari tingkat manajemen atas sampai dengan tingkat pelaksana mutu itu sendiri.
Adapun topik topik yang diberikan dalam seminar ini adalah: Pengertian mutu,Jaminan Mutu,Budaya Mutu,Konsep Pelanggan,Manfaat Mutu dll,tergantung dari waktu yang disediakan dalam workshop tersebut.
1.3. MENGEMBANGKAN KEPEMIMPINAN MUTU.
Kepemimpinan yang berwawasan mutu merupakan kemampuan untuk membangkitkan semangat orang lain agar bersedia dan memiliki tanggung jawab menyeluruh terhadap usaha mencapai suatu tujuan.
Fungsi kepemimpinan mutu adalah sebagai berikut:
1). Perencanaan Mutu: Fungsi ini meliputi identifikasi pelanggan dan kebutuhannya,mengembangkan produk sesuai kebutuhan pelanggan,mengembangkan metode dan proses kerja serta mengubah hasil perencanaan kedalam tindakan.
2). Pengendalian Mutu: Fungsi ini mencakup langkah langkah evaluasi kinerja aktual,membandingkan kinerja dengan tujuan,melakukan tindakan perbaikan untuk mengatasi perbedaan kinerja yang ada.
3). Perbaikan Mutu. Fungsi ini meliputi penyediaan prasarana untuk perbaikan mutu secara berkesinambungan,identifikasi proses satu metoda yang membutuh-kan perbaikan,membentuk tim yang bertanggung jawab atas program perbaikan mutu,menye-diakan sumber daya serta pelatihan yang dibutuhkan oleh tim dalam memecahkan masalah.
1.4. MENETAPKAN TUJUAN PENINGKATAN MUTU
Pada langkah ini perlu dirumuskan secara tepat dan benar tentang tingkat kesenjangan kinerja yang terjadi,sehingga akan semakin jelas dan tepat kearah mana tujuan yang ingin dicapai dalam peningkatan mutu.
Tujuan digambarkan dalam bentuk kuantitas yang harus dicapai ketika program sudah selesai. Beberapa petunjuk yang perlu untuk menuliskan tujuan adalah sebagai berikut:
1. Spesifik. Tujuan harus bersifat spesifik,dan tidak mengambang. Spesifik berarti bahwa target yang akan kita capai itu sudah menjurus atau terfokus pada suatu issue/topik.
2. Measurable. Tujuan yang akan kita capai sedapat mungkin harus dapat diukur melalui indikator tertentu.
3. Achievable. Tujuan yang telah ditetapkan sedapat mungkin harus dapat dicapai
4. Realistis. Tujuan yang diinginkan sifatnya realis, dan tidak muluk muluk.
5. Time Bound. Untuk mencapai tujuan tersebut haruslah dalam batas waktu tertentu.
1.5. MENYUSUN RENCANA STRATEJIK DAN OPERASIONAL
Penyusunan rencana stratejik dan rencana operasional rumah sakit sebaiknya berdasarkan pada analisa SWOT dengan memperhitungkan faktor faktor eksternal dan internal dari pada rumah sakit. Kesenjangan nilai yang ditemukan berdasarkan analisa tersebut,disusun suatu rencana aksi yang kegiatannya berfokus pada visi dan misi organisasi.
Jenis-Jenis Pelatihan pada fase ini antara lain:
• Pelatihan/Orientasi tentang Mutu
• Pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pelatihan (TNA).
• Pelatihan Kepemimpinan Mutu
2. FASE TRANSFORMASI
Pada fase ini beberapa strategi yang disarankan adalah sebagai berikut:
• Pemilihan proses proses prioritas yang akan ditingkatkan dalam bentuk proyek percontohan.
• Pembentukan kelompok kelompok kerja yang kompeten terhadap proses proses tersebut.
• Identifikasi anggota untuk masing masing kelompok kerja
• Proses dalam kelompok kerja untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan dengan siklus PDCA atau PDSA
• Pelatihan Penyusunan Standar dan Dokumentasi Mutu.
• Pelatihan Internal Audit Mutu and Corective Action
• Pelatihan Manajemen Stratejik
• Evaluasi
Jenis-jenis Pelatihan dalam fase ini antara lain:
1. Pelatihan Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan
2. Tim Building
3. Analisa tugas dan Analisa Jabatan.
4. Supervisi
5. Management and Statistic Tools

3.FASE INTEGRASI
Pada fase ini strategi yang disarankan adalah:
• Mengintegrasikan pelaksanaan CQI pada seluruh jajaran organisasi
• Membentuk dan mempertahankan komitmen terhadap mutu melalui optimalisasi dan proses perbaikan yang berkesinambungan
• Pelatihan pada seluruh karyawan
• Penetapan indikator mutu
• Pengembangan sistem surveilance dan evaluasi mutu yang tepat
• Penerapan proses perbaikan mutu yang berke-sinambungan pada semua unit dan lintas unit dengan membentuk kelompok-kelompok kerja yang mandiri
Jenis Jenis Pelatihan pada fase ini antara lain misal:
• pelatihan team based
• pelatihan GKM,PKM,BPI
• Asuhan Keperawatan
• Standar Pelayanan Medis
• Manajemen Review
• Penyusunan Indikator
• Monitoring dan Evaluasi
Bab IV
PENUTUP
Kegiatan Jaminan Mutu merupakan suatu kegiatan yang integral yang harus tersirat dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan. Mutu harus dilihat dari berbagai dimensi,dan pemenuhan setiap dimensi mempunyai persyaratan persyaratan tertentu.
Untuk menghasilkan suatu pelayanan yang bermutu diperlukan waktu yang relatif panjang dan membutuhkan kerja sama yang baik dari pada semua unsur yang terlibat dalam rumah sakit.
Beberapa prinsip dalam jaminan mutu yang harus diikuti adalah Fokus pada pelanggan,Pendekatan ilmiah,Perbaikan yang berkesinambungan dan Pemanfaatan Tim dalam pengambilan keputusan.
Ooo000ooo

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.